
KENDARI,GAGASSULTRA.COM - Musyawarah Cabang (Muscab) Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) Kota Kendari, Minggu, (21/12/2025) menelorkan,Prof.Najib Husain sebagai Ketua Formatur. Kegiatan ini berlangsung di Aula Lantai 3 Fakultas Hukum Universitas Halu Oleo (UHO).
Dalam Muscab tersebut, awalnya mengusulkan tujuh nama calon ketua. Namun dalam perjalanannya forum akhirnya menetapkan Prof. Najib Husain sebagai ketua dan Dr.Sarkina Safiuddin sebagai Sekretaris.
Muscab yang dihadiri puluhan Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) menyambut positif terpilihnya Prof. Najib Husain sebagai ketua untuk memperkuat peran KAGAMA dalam mendukung pembangunan daerah.
Pada kesempatan tersebut, Prof.Najib Husain bertekad menjadikan KAGAMA Kendari sebagai “Rumah Besar KAGAMA yang inklusif”. Konsep ini menempatkan KAGAMA sebagai wadah bersama yang terbuka bagi seluruh alumni UGM, tanpa sekat latar belakang profesi, usia, maupun bidang keahlian.
“KAGAMA harus menjadi rumah bersama, tempat berkolaborasi dan berkontribusi nyata bagi daerah,” ujar Najib dalam sambutannya.
Untuk itu, pihaknya menegaskan, KAGAMA Kota Kendari harus dibangun melalui kolaborasi strategis dengan pemerintah daerah dan sektor swasta, sehingga tercipta sinergi yang kuat dalam mendukung berbagai program pembangunan.
“Jadi sinergi antara alumni, pemerintah, dan dunia usaha memiliki potensi besar untuk mendorong kemajuan Kendari, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, maupun penguatan sumber daya manusia,”ungkapnya.
Ditambahkan, potensi alumni ini disatukan dan disinergikan, dampaknya akan terasa langsung dalam pembangunan Kota Kendari yang lebih maju dan berdaya saing.
Pelaksanaan Muscab KAGAMA Kota Kendari ini, dirangkaikan dengan peringatan Dies KAGAMA ke-76 yang dilaksanakan secara meriah dan sederhana. (Rin/Red)
KENDARI, GAGASSULTRA.COM – Dua terdakwa kasus operasi tangkap tangan (OTT) pengadaan website Inspektorat Kota Baubau, Amrin Abdulah (AA) dan La Ode Muhaimin (LM) dinyatakan bersalah oleh Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Kendari, Jum'at (19/12/2025). Kedua terdakwa masing-masing divonis 4 tahun dan 6 bulan penjara serta denda Rp 200 Juta.
Putusan ini lebih ringan dibandingkan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU). Dimana, terdakwa AA sebelumnya ditutut 8 tahun dan 6 bulan penjara. Sedangkan, terdakwa LM dituntut 5 tahun dan 6 bulan penjara.
Sidang putusan yang digelar di ruang sidang Tipikor PN Kendari tersebut dipimpin Ketua Majelis Hakim Arya Putra Negara Kutawaringin, SH, MH, didampingi hakim anggota Drs. Parsungkunan, SH, MH dan Muhammad Nurjalil, SH, MH.
Dalam amar putusannya, majelis hakim menyatakan kedua terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama berupa pemerasan dalam jabatan sebagaimana dakwaan Jaksa Penuntut Umum.
“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Amrin Abdullah dan La Ode Muhaimin dengan pidana penjara masing-masing selama 4 tahun dan 6 bulan serta denda sebesar Rp200 juta, dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 2 bulan,” kata Ketua Majelis Hakim Arya Putra Negara Kutawaringin saat membacakan amar putusan.
Dalam pertimbangannya, majelis hakim menegaskan, perbuatan para terdakwa dilakukan secara bersama-sama dan bertentangan dengan prinsip penyelenggaraan pemerintahan yang bersih serta akuntabel. Tindakan tersebut dinilai telah mencederai kepercayaan publik, khususnya dalam proses pengadaan barang dan jasa di lingkungan pemerintah daerah.
Usai pembacaan putusan, majelis hakim memberikan waktu kepada Jaksa Penuntut Umum maupun para terdakwa untuk menyatakan sikap atas putusan tersebut. Baik JPU maupun pihak terdakwa diberikan waktu selama 7 hari untuk menyatakan apakah menerima putusan atau menempuh upaya hukum lanjutan.
Usai pembacaan putusan, sidang dinyatakan selesai dan ditutup.(Rin/Red)
BAUBAU, GAGASSULTRA.COM - Aris Sujadmiko Martono resmi mendaftar sebagai calon Ketua Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Kota Baubau. Pendaftaran calon ketua resmi ditutup Senin (15/12/2025) pukul 23.59 WITA
Miko sapaan akrab Sujadmiko, kepada Gagassultra.com mengatakan,dirinya mengakui memilih sebagai pendaftar terakhir untuk melihat sejauh mana peminat sebagai calon partai Hanura Baubau sebagai salah satu partai yang diperhitungkan saat ini
“Partai Hanura di Baubau itu ibarat gadis cantik. Jadi sa memilih menjadi pendaftar terakhir sebelum penutupan,”ungkapnya.
Untuk itu, kata Sujatmiko, keputusannya memilih sebagai pendaftar terakhir melihat sejauh mana peminat Hanura sebagai salah satu parpol yang menjadi perhatian warga Kota Baubau.
“Saya kader tulen Partai Hanura, kepengurusan Partai Hanura saya sekretaris di kepengurusan 2020-2025. Jadi untuk membesarkan partai bukan urusan baru buat saya,”kata Miko usai mendaftar.
Sementara itu, Muh Toufan Akhmad Ketua Panitia Seleksi Penjaringan Calon Ketua DPC Hanura Kota Baubau mengatakan, hingga penutupan pendaftaran mengaku sudah lima resmi mendaftar.
“Hingga penutupan pendaftaran lima orang yang sudah resmi mendaftar. Dan Saya pastikan semua yang mendaftar adalah kader Partai Hanura,”ungkapnya.
Untuk diketahui, hingga penutupan pendaftaran ada lima yang mendaftar diantaranya Noor Gemilang Siradja, Naslia Alu, Hj. Ratna, La Ode Yasin dan Aris Sujadmiko Martono. (Rin/Red)
KENDARI, GAGASSULTRA.COM-Forum Alumni HMI-Wati (FORHATI) Sulawesi Tenggara (Sultra) sukses menyelenggarakan rangkaian kegiatan dalam rangka milad ke-27, Sabtu (13/12/2025) di KAHMI Center Kendari. Kegiatan milad tahun ini dengan tema “Perempuan Merawat Bumi”.
Koordinator Forhati Sultra, Rahmawati Azi kepada media ini mengatakan, sebagai wujud nyata komitmen kelembagaan terhadap pelestarian lingkungan dan pemberdayaan perempuan dalam konteks ekologis. Rangkaian kegiatan dibuka dengan Sekolah Ekofeminisme dengan menggandeng Komunitas Handari Perma Kultur Puwatu.
Dikatakan, dalam kegiatan ini para peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman tentang prinsip-prinsip ekofeminisme, tetapi juga langsung belajar pendekatan hidup berkelanjutan melalui metode perma culture.
“Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kesadaran bahwa perjuangan perempuan tidak hanya terkait pada kesetaraan sosial, tetapi juga pada peran strategis merawat bumi sebagai sumber kehidupan bersama,”ungkapnya.

Belajar di Komunitas Handari Perma Kultur Puwatu
Selanjutnya, peserta mengikuti Pelatihan Pembuatan Kombucha, sebuah praktik fermentasi sehat yang mencerminkan prinsip ketahanan pangan lokal dan kemandirian keluarga.
“Pelatihan ini tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga membangun kesadaran akan hubungan manusia dengan mikro-ekosistem yang membantu mendukung kesehatan dan keseimbangan lingkungan,”jelasnya.
Potong Tumpeng, Simbol Syukur dan Harapan Baru
Rangkaian kegiatan ditutup dengan Pemotongan Tumpeng di KAHMI Center, yang sekaligus menjadi simbol syukur, kebersamaan, dan harapan baru. Momentum ini juga menjadi ruang refleksi untuk membahas peran perempuan sebagai penjaga harmoni ekologis dan sosial dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks.
Rahmawati Azi pada kesempatan tersebut menjelaskan, tema ‘Perempuan Merawat Bumi’ adalah tema yang dipilih bukan hanya karena itu mengena, tetapi karena ini adalah tanggapan terhadap kondisi bangsa yang sedang dilanda berbagai bencana ekologis akibat dari keserakahan tangan-tangan penguasa yang berkolaborasi dengan kapitalisme yang destruktif.
‘Forhati dengan segala keterbatasannya ingin mengambil peran dalam menjaga dan merawat bumi. Ini bukan sekadar slogan, tetapi panggilan untuk bertindak secara kolektif dan konkrit.”jelasnya.
Ditambahkan, rangkaian kegiatan ini merupakan langkah awal dari program kerja FORHATI yang akan terus memperluas pendidikan ekofeminis dan jejaring kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat dan organisasi lingkungan.
Milad FORHATI 2025 menjadi bukti bahwa perempuan tidak hanya hadir sebagai subjek perubahan, tetapi juga sebagai agen aktif yang mengambil peran kecil namun signifikan untuk cinta lingkungan, keadilan sosial, dan masa depan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.(Rin/Red)
KENDARI, GAGASSULTRA.COM - Ratusan tim dari berbagai Sekolah Sepak Bola (SSB) dan akademi se-Sulawesi dijadwalkan akan bertanding dalam Turnamen Usia muda SSB CISC kendari cup 1 yang akan berlangsung mulai Tanggal 16 hingga 21 Desember 2025 di Lapangan Benu-benua, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.
Turnamen tahun ini diprediksi akan mencatat rekor partisipasi yang signifikan. Berdasarkan data panitia ada 154 tim yang terdiri dari kelompok usia U10, U12 dan U14 yang akan berlagan dgn jumlah pertandingan 252 match. Tim-tim ini tidak hanya berasal dari Sulawesi Tenggara, namun juga dari beberapa kota/daerah perwakilan Sulawesi Tengah.
Ketua Panitia, Akbar Djufri mengatakan tercatat ada 154 Tim dari 53 SSB akan berlaga dalam turnamen tersebut dan banyaknya peserta yang datang menunjukan antusiasme yang tinggi dalam pembinaan usia muda.
"Kami sangat bangga melihat lonjakan jumlah peserta untuk turnamen pertama SSB Cisc Kendari CUP 1. Ini adalah bukti bahwa pembinaan sepak bola usia dini di Indonesia terus berkembang. Tujuan utama kami bukan hanya mencari juara, tetapi juga memberikan wadah kompetisi yang sehat, menumbuhkan fair play, dan tentu saja, menciptakan kegembiraan bagi anak-anak," ujarnya.
Lebih lanjut dikatakan, fokus utama dalam kompetisi ini adalah aspek pembinaan dan pendidikan karakter. Aturan main dirancang sedemikian rupa untuk memastikan setiap anak mendapatkan waktu bermain yang cukup, serta menekankan pentingnya kerja sama tim di atas hasil akhir.
"Tujuannnya adalah sebagai wadah pengembangan usia dini, menjalin persaudaraan antar SSB serta mengembangkan kualitas sepakbola khususnya usia dini," jelasnya.
Ditambahkan pula, turnamen mini soccer ini akan memperebutkan total hadiah sebesar Rp 45 Juta.
"Selain piala dan medali, panitia juga menyiapkan penghargaan individu seperti Top score,best player dan best goal keeper untuk setiap kategori usia, yang diharapkan dapat memotivasi para talenta muda," pungkasnya.
Melalui turnamen ini diharapkan akan lahir bibit-bibit unggul pesepak bola masa depan yang kelak akan mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Masyarakat diimbau untuk datang dan memberikan dukungan positif kepada para atlet muda.(Rin/Red)
Catatan : Rahmawati Azi (Koordinator presidium Forhati Sultra dan Dosen Sastra Inggris FIB UHO)
Dalam kerangka ekofeminisme, hubungan antara perempuan dan alam bukan kebetulan, melainkan relasi fundamental. Salah seorang teoris ekofemins, Vandana Shiva berargumen bahwa dominasi terhadap alam dan subordinasi perempuan sering muncul bersamaan, sebagai dua sisi dari logika patriarki-kapitalis yang memisahkan manusia dari ekosistem, memperlakukan alam sebagai komoditas, dan merendahkan kualitas “feminin”, yaitu empati, merawat, menghargai kehidupan dan relasionalitas.
Menurut Shiva, alam dan perempuan sering dianggap “yang lain”, objek yang bisa dikuasai, dieksploitasi, dikontrol. Dalam pandangannya, krisis lingkungan bukan semata soal salah kelola atau kebijakan buruk, tetapi juga akibat mendasar dari sistem nilai patriarkal yang mendefinisikan kekuatan sebagai dominasi, dan nilai sebagai apa yang bisa dieksploitasi atau dinilai dalam mata uang ekonomi.
Karena itu, transformasi ekologi tidak bisa dipisahkan dari transformasi gender dan kultur sebuah “revolusi etika” yang mendobrak dikotomi dominator/domestik, manusia/alam, maskulinitas/feminitas.
FORHATI sebagai organisasi perempuan, tidak hanya memperjuangkan hak perempuan dalam ruang politik, sosial, atau ekonomi, tetapi juga dalam relasi kita dengan bumi, melalui praktik nyata yang menghargai kehidupan, alam, dan komunitas.
Hari ini, tanggal 13 Desember 2025, dalam rangka milad Forhati yg jatuh tanggal 12 Desember kemarin, kami menginisiasi kegiatan ini: belajar permakultur di “Handari Permaculture” dan pelatihan kombucha. Di sini kami sesungguhnya sedang menerjemahkan ekofeminisme ke dalam tindakan kolektif: menolak model pembangunan destruktif , konsumtif yang memisahkan manusia dari alam; serta menegaskan kembali bahwa perempuan, dengan sensitivitas dan daya pedulinya, bisa menjadi penjaga bumi, pelaku perubahan, dan agen restorasi ekologis.
Lewat permakultur, nilai-nilai seperti kerjasama, siklus alam, diversitas hayati, pemeliharaan tanah dan air, serta kearifan lokal dihidupkan kembali , menentang logika monokultur, eksploitasi, dan dominasi. Begitu pula dengan fermentasi kombucha, sebagai upaya ketahanan pangan, kemandirian, dan penghormatan terhadap proses alami, simbol perlawanan terhadap konsumsi massal dan produksi industri seragam.
Dengan landasan ekofeminisme Shiva, aktivitas kecil ini tidak sekadar pragmatis: ia bermakna secara moral, sebagai manifestasi spiritual dari janji peremajaan relasi manusia–alam, pengakuan terhadap nilai “kehidupan” (life), serta kebijakan hidup yang menyatukan cinta terhadap Bumi, solidaritas, dan kesetaraan.
Karenanya, “feminitas FORHATI” bukan hanya tentang suara perempuan dalam wacana sosial, tetapi tentang mengupayakan meski dalam skala paling mikro, kehadiran perempuan sebagai penjaga-penjaga tanah, air, benih, komunitas, dan generasi mendatang. Dengan demikian, mengambil peran kecil dalam mencintai bumi adalah kontribusi politik dan spiritual, sebagai satu langkah kecil dalam pemulihan kualitas hidup bersama manusia dan alam.
Belajar permakultur, membuat Kombucha, merawat bumi dari skala mikro, kami berupaya, meski lagi-lagi belum begitu berarti, untuk ikut melakukan revolusi spiritual: bukan dominasi, bukan ekstraksi, tapi perawatan, hormat, dan solidaritas. Kombucha dan SCOBY-nya tidak hanya menjadi minuman sehat, tapi simbol bahwa bumi, sampai ke tingkat yang paling kecil penuh roh dan penuh kehidupan.
Sambil menyaksikan fermentasi itu, kami belajar satu hal sederhana namun mendalam: mencintai bumi bukan harus soal peran besar dengan modal besar, tapi juga soal memahami kehidupan satu “roh kecil” yang tersembunyi, pada mikro-alam yang sering kita lupakan. Karena kehidupan,besar atau kecil, pantas dihargai. (***)
JAKARTA,GAGASSULTRA.COM- Momentum Hari Guru Nasional, Putera Sampoerna Foundation (PSF) ingin mendorong masyarakat melihat guru bukan hanya sebagai sosok yang mengajar, tetapi sebagai manusia yang juga berhak bermimpi, berkembang, dan memiliki masa depan yang sejahtera. Melalui kampanye StandWithTeachers, PSF mengajak publik untuk mengubah rasa terima kasih menjadi aksi nyata yang memberi ruang bagi guru untuk tumbuh, berdaya, dan memiliki kesempatan mengejar potensi terbaiknya, baik di dalam maupun di luar kelas.
Guru: Fondasi Masa Depan yang Masih Menunggu untuk Diprioritaskan
Setiap profesi besar selalu bermula dari sebuah ruang kelas. Dari balik papan tulis, buku lusuh, dan suara yang tidak pernah lelah, para guru “menciptakan” dokter, insinyur, perawat, jurnalis, hingga pemimpin bangsa. Mereka adalah arsitek semua profesi yang menjadi fondasi dari masa depan sebuah negara. Namun ironisnya, justru merekalah yang paling sering berdiri di pinggir panggung publik.
Di balik peran mulianya, banyak guru Indonesia masih bergulat dengan realitas yang jauh dari kata ideal. Survei IDEAS (Institute for Demographic and Poverty Studies) menunjukkan bahwa 42,4% penghasilan guru di Indonesia di bawah 2 juta, 74% guru honorer berpenghasilan di bawah UMK, dan lebih dari 20% hanya menerima kurang dari Rp 500.000 per bulan. Sementara itu, lebih dari 60% guru belum pernah mendapat pelatihan berkelanjutan yang mereka butuhkan untuk mengikuti perkembangan dunia pendidikan modern.
Kita sudah terbiasa mengatakan, “Terima kasih, Guru.”
Namun jarang sekali kita bertanya: “Bagaimana kabar kesejahteraan mereka hari ini?”
Atau bahkan pertanyaan yang lebih sederhana, tetapi sering terlupakan:
“Siapa yang mendukung mimpi mereka? Bukan mimpi murid, bukan ekspektasi orang tua, tetapi mimpi pribadi mereka sebagai manusia yang juga punya tujuan hidup.”

Ketika Guru Menjadi Inspirasi, Tetapi Jarang Mendapat Inspirasi dan Aspirasi
Kampanye StandWithTeachers yang digagas Putera Sampoerna Foundation (PSF) berangkat dari kesenjangan besar ini: kesenjangan antara harapan masyarakat dan kondisi nyata para guru. Harapan bahwa guru selalu kuat, selalu ikhlas, selalu mengabdi. Namun realitanya, banyak dari mereka harus mengajar sambil mengejar penghasilan tambahan, membangun kelas dengan dana pribadi, atau berusaha mencari pelatihan yang tidak pernah sampai ke kota mereka.
Menurut Senior Director, Putera Sampoerna Foundation Elan Merdy, kampanye ini ingin mengingatkan publik bahwa sebagai manusia guru juga memiliki kebutuhan, aspirasi, serta mimpi pribadi.
“Guru adalah arsitek semua profesi, tetapi realitas kesejahteraan dan akses pengembangan mereka masih jauh dari ideal. Melalui kampanye StandWithTeachers, kami ingin mengajak masyarakat untuk tidak hanya berterima kasih, tetapi juga berdiri bersama para guru, memberikan dukungan nyata agar mereka dapat tumbuh, berkarya, dan mengejar mimpi pribadinya di dalam maupun di luar kelas.”
Melalui video kampanye “Letters They Never Hear”, PSF menyoroti satu kenyataan sederhana bahwa banyak guru menjalankan tugasnya tanpa langsung mengetahui besar dampak yang mereka tinggalkan. Mereka mendampingi murid bertumbuh dan mereka melakukannya setiap hari dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sering kali mereka lupa bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah upaya yang hasilnya baru tampak di masa depan .Kata-kata terima kasih dari murid yang telah meraih pencapaian di usia dewasa akan menjadi pengingat bahwa setiap pelajaran, teguran, doa, dan keyakinan yang guru berikan tidak pernah sia-sia. Inilah saatnya kita menyampaikan rasa terima kasih yang selama ini belum terucap.
Guru yang Bermimpi, Guru yang Berdaya
Adalah Risky Darma Ramadan, Guru SDN 2 Koya Barat, Jayapura yang telah aktif terlibat dalam program Putera Sampoerna Foundation selama tiga tahun terakhir. Di tengah keterbatasan fasilitas, akses pelatihan, dan tantangan ekonomi sebagai guru, Risky tetap memilih bertahan. Baginya, mendidik bukan sekadar profesi, melainkan cara untuk membuka pintu masa depan yang lebih luas bagi anak-anak di daerahnya.
Perjalanannya menarik perhatian Putera Sampoerna Foundation ketika ia mengikuti program Guru Binar pada tahun 2022. Saat itu, Risky datang dengan satu keresahan: ia ingin terus mengajar, tetapi juga ingin memperbaiki kesejahteraannya tanpa meninggalkan dunia pendidikan. Melalui pelatihan tentang pembelajaran aktif, media pembelajaran sebagai media interaktif, hingga literasi digital, Risky mulai menemukan ruang baru untuk bermimpi. Ia juga dilatih untuk menjadi narasumber nasional hingga menjadi bagian dari Guru Binar Ambassador.
Dengan dukungan program dan keberanian untuk memulai, ia kemudian aktif dalam menyusun kelas pelatihan yang dikemas menjadi rangkaian webinar menarik dengan peminat yang banyak. Ilmu yang Ia berikan pembelajarannya kini digunakan oleh puluhan guru di seluruh Indonesia. Dari usaha ini, pendapatannya perlahan tumbuh dan hari ini ia dapat membantu keluarganya sembari tetap menjalankan panggilan hati sebagai pendidik.
“Dulu saya pikir peran saya sebagai guru cuma di kelas. Tapi setelah ikut pelatihan PSF, saya sadar bahwa keterampilan mengajar bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih besar. Sekarang saya bisa tetap mengajar sambil membangun usaha yang membantu orang lain dan meningkatkan kualitas hidup saya dan keluarga,” ungkap Risky.
Kesetiaan Risky untuk tetap berkontribusi di daerah tempat ia lahir membuahkan dampak nyata: murid-muridnya kini lebih percaya diri menghadapi ujian nasional, beberapa alumni sekolahnya sudah melanjutkan pendidikan tinggi, dan guru-guru di sekolahnya mulai termotivasi untuk terus belajar dan berkarya.
Kisah Risky kemudian menjadi pengingat bahwa ketika guru diberikan ruang, akses, dan dukungan yang tepat, mereka bukan hanya mengajar, tetapi dapat mengubah masa depan.
Mengubah Terima Kasih Menjadi Aksi Kampanye
StandWithTeachers bukan sekadar peringatan Hari Guru, tetapi sebuah gerakan sosial yang mengajak masyarakat mengubah apresiasi menjadi tindakan nyata. Melalui kompetisi media sosial, publik diajak membagikan kisah tentang guru yang menginspirasi mereka. Lewat partisipasi KOL dan publik figur, cerita-cerita itu diangkat ke permukaan, memperlihatkan bahwa setiap orang punya kisah personal dengan guru.
“Tahun ini kami ingin menyoroti bahwa guru bukan hanya pendidik, tetapi individu yang memiliki aspirasi, kreativitas, dan potensi ekonomi yang besar. Melalui rangkaian kegiatan dari kampanye StandwithTeachers ini, PSF berkomitmen membuka ruang bagi guru untuk berdaya dan mandiri. Ketika guru didukung untuk berkembang, maka kualitas pendidikan dan masa depan generasi muda pun ikut menguat,” tutur Elan.
Bagi PSF, ini bukan kampanye sesaat. Ini adalah ajakan jangka panjang untuk mengubah sikap bangsa terhadap guru, bahwa mereka adalah investasi besar sebuah bangsa. Guru telah memperjuangkan masa depan generasi bangsa, dan kini giliran kita berdiri bersama mereka. Membantu mereka mendapatkan pelatihan yang layak, memberi akses pada peluang ekonomi, mendukung mimpi pribadi mereka, dan memastikan suara mereka didengar.
Karena jika guru adalah arsitek semua profesi, maka kesejahteraan mereka adalah pondasi masa depan Indonesia. Dan pondasi itu harus kita kuatkan bersama. StandWithTeachers bukan hanya slogan. Ia adalah komitmen untuk mengembalikan kehormatan kepada profesi yang telah membentuk kita semua.
Tentang Putera Sampoerna Foundation
Putera Sampoerna Foundation (PSF) adalah sebuah institusi bisnis sosial pertama di Indonesia yang bertujuan untuk memajukan Indonesia melalui pendidikan yang berkualitas. Dengan rekam jejak selama 20 tahun, Institusi ini didirikan untuk menjalankan berbagai misi sosial, dan pada tahun 2015 berfokus pada sektor pendidikan sebagai pilar utama organisasi - karena PSF percaya bahwa pendidikan yang berkualitas menjadi kunci penting untuk pengembangan bangsa di masa depan.
Dedikasi PSF diwujudkan dengan serangkaian program untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, dimana PSF membentuk Sampoerna School System, sebuah sistem edukasi berbasis kurikulum internasional yang terintegrasi untuk Pendidikan Anak Usia Dini sampai dengan jenjang sekolah tingkat tinggi. Di bawah naungan School Development Outreach (SDO), PSF menjalankan berbagai program, antara lain dengan memberikan lebih dari 43.000 penerima beasiswa yang merupakan siswa-siswi berprestasi di Indonesia, serta menjangkau lebih dari 33.661 Guru dan Kepala Sekolah dan 416.109 siswa, 109.560 orang tua serta 152 sekolah di Indonesia.(Red)
KENDARI, GAGASSULTRA.COM-Dalam rangkaian peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia (Hakordia) 09 Desember 2025, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar penyuluhan hukum dan press Gathering. Kegiatan yang digelar di salah satu hotel di Kendari,Selasa (09/12/2025) mengangkat tema “Berantas Korupsi untuk Kemakmuran Rakyat.”
Kegiatan ini digelar sebagai ruang dialog dan edukasi terkait strategi pencegahan serta penegakan hukum tindak pidana korupsi di wilayah Sulawesi Tenggara.
Sejumlah unsur hadir dalam kegiatan ini, mulai dari tokoh masyarakat, tokoh agama dan insan pers di Kota Kendari.

Tim Kejati Sultra saat kegiatan penyuluhan hukum dan press gathering dalam rangka peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia 2025
Kepala Seksi (Kasi) 4 Asisten Bidang Intelijen Kejati Sultra, Purnama, membuka kegiatan dengan menegaskan bahwa forum ini bukan hanya seremoni, tetapi wadah berbagi perspektif dan memperkuat komitmen bersama dalam memerangi praktik korupsi.
“Pada pagi ini kita berada di tempat ini untuk mengadakan sharing pengetahuan, tukar pengalaman, penyuluhan, serta pemaparan capaian kinerja yang ada di Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara,” ujar Purnama, Selasa (9/12/2025).
Agenda kegiatan dibagi dalam dua bagian utama. Pertama, penyampaian materi mengenai tindak pidana korupsi oleh Plt. Kasi Penerangan Hukum Kejati Sultra.
Pada kesempatan pertama Plt Kasi Penkum Kejati Sultra, Eki Mohammad Hasyim,S.H dalam paparanya menjelaskan ancaman dan bentuk-bentuk yang berpotensi korupsi. Mulai dari proses lelang hingga gratfikasi agar menjadi perhatian bersama.
“Potensi-potensi korupsi harus menjadi perhatian, termasuk memperkaya orang lain dalam memanfaatkan jabatan itu juga korupsi,”jelasnya.
Bagian kedua memaparkan capaian kinerja Kejati Sultra sepanjang tahun 2025, yang disampaikan oleh Yusran dari Bidang Pidana Khusus (Pidsus).
Selain pemaparan materi, sesi diskusi interaktif juga difasilitasi untuk memberi ruang tanya jawab, masukan, dan kritik konstruktif dari publik, khususnya dari kalangan media dan akademisi.
Purnama menegaskan bahwa keberhasilan pemberantasan korupsi tidak hanya bergantung pada penegakan hukum, tetapi juga pada peran serta masyarakat dan transparansi dialog antar-stakeholder.
“Secara simultan akan dibuka ruang bersama dalam penanganan maupun pencegahan tindak pidana korupsi. Kami berharap masyarakat mendukung pelaksanaan penanganan tindak pidana korupsi, sebagaimana tema hari ini, “berantas korupsi untuk kemakmuran rakyat”,” tutupnya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan HAKORDIA nasional, sekaligus menunjukkan komitmen Kejati Sultra dalam memperkuat edukasi hukum, meningkatkan transparansi informasi, dan menjaga integritas dalam penegakan hukum di Bumi Anoa.(Rin/Red)
TANGERANG,GAGASSULTRA.COM-PT.Topik Purnama Jaya pengemban perumahan (Developer) Green Cisoka Residence kembali menggelar akad massal tahap ke II dan penyerahan kunci rumah kepada konsumen, Sabtu (06/12/2025).
Proses pelaksanaan Akad Massal Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), PT. Topik Purnama Jaya tetap menggandeng Bank BTN Kantor Cabang (KC) Tangerang, Provinsi Banten.
Pada kesempatan tersebut, Direktur PT. Topik Purnama Jaya, Rahmat Rasyid mengatakan, keberhasilan penyelenggaraan ini menegaskan komitmen tulus dan nyata PT Topik Purnama Jaya dan Bank BTN dalam mengemban misi nasional, yaitu menjawab kebutuhan dasar MBR dengan menyediakan hunian subsidi berkualitas tinggi, strategis, dan layak huni di jantung wilayah Banten.
Untuk itu, dengan kesuksesan akad ini menjadi tantangan perusahaan lebih baik lagi menghadirkan hunian yang nyaman dengan kualitas bangunan terbaik, sehingga konsumen yang memilih perumahan Green Cisoka Residence bisa tinggal dengan nyaman.
“Hari ini kami bangga menyelenggarakan akad massal tahap ke-2 di bulan Desember, setelah sukses besar di tahap pertama pada Agustus 2025. Ini adalah bukti kecepatan dan efektivitas tim kami,” kata Rosyid sapaan akrabnya.
Dikatakan, untuk memberikan kenyamanan kepada konsumen, acara akad massal tahap II ini dibagi dua gelombang. Dan tercatat sebanyak 50 konsumen resmi menandatangani akad KPR.
“Alhamdulilah proses pengajuan ini juga kami disupport oleh beberapa cabang Bank BTN. Untuk total yang akad hari ini dan besok, ada 50 data konsumen yang akad,” jelasnya.
Lebih lanjut dikatakan, selain yang sudah tercatat dalam akad tahap I dan II, pihaknya masih memiliki cadangan konsumen yang sudah mengantongi Surat Penegasan Persetujuan Penyediaan Kredit (SP3K) dari bank untuk diakomodir pada akad berikutnya.
“Untuk akad berikutnya kami masih punya stok konsumen yang sudah mengantongi SP3K dan akan kami proses untuk memastikan para konsumen ini mendapatkan rumah impiannya sebelum akhir tahun,”jelasnya.
Perumahan Green Cisoka Residence, kata Rahmat Rasyid tidak hanya menghadirkan hunian subsidi di atas standar umum. Namun kedepannya, pihaknya sudah merancang pembangunan fasilitas umum. Mulai dari taman hingga pembangunan sekolah untuk taman kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD).
“Sebagai developer, kami berkomitmen teguh memberikan kualitas terbaik, Dan memastikan rumah yang kami serahkan benar-benar kokoh, aman, dan berbeda dari perumahan subsidi pada umumnya. Dan sebagai tambahan kita upayakan untuk menyiapkan fasilitas sekolah sehingga anak-anak dalam lingkungan perumahan sudah tidak jauh lagi keluar,”tutupnya.
Untuk diketahui, Pembangunan tahap satu Green Cisoka Residence ini mencakup 292 unit bertipe subsidi. Secara total, proyek ini akan dikembangkan dalam tiga tahap, mencapai 1.720 unit. (Rin/Red)
“
Oleh: Dr. Anidi, S.Ag., M.Si., M.S.I., M.H (Dekan FKIP Unsultra)
Otoritas guru sebagai figur teladan dan figur sentral dalam pendidikan saat ini tengah mengalami erosi signifikan dalam dua dekade terakhir. Zaman dulu guru ditempatkan sebagai sumber ilmu, teladan moral, dan pemegang kendali proses pembelajaran, kini posisi tersebut semakin terdesak oleh perubahan sosial yang cepat. Fenomena ini tidak sekadar menunjukkan penurunan penghormatan terhadap profesi guru, tetapi juga menggambarkan transformasi dalam relasi otoritas antara guru, siswa, dan orang tua dalam ekosistem pendidikan.
Degradasi Perspektif Faktor Sosial
Degradasi otoritas guru semakin terlihat dalam dinamika sosial masyarakat modern. Perubahan nilai sosial yang bergerak menuju budaya egalitarian membuat guru tidak lagi dipandang sebagai figur yang otomatis dihormati, melainkan harus “membuktikan” otoritasnya di hadapan siswa dan orang tua. Masyarakat yang semakin kritis sering kali menempatkan guru pada posisi rentan: keputusan pedagogis dipertanyakan, tindakan disiplin dipersoalkan, dan kesalahan kecil dapat memicu reaksi berlebihan.
Meningkatnya intervensi orang tua dalam urusan sekolah turut melemahkan posisi guru. Banyak kasus menunjukkan ketika guru menegakkan aturan, sebagian orang tua justru merespons dengan resistensi, bukan kolaborasi. Kondisi ini menciptakan ketidakseimbangan relasi, di mana guru kehilangan ruang untuk membimbing secara tegas dan profesional. Pada akhirnya, degradasi otoritas ini tidak hanya merugikan guru, tetapi juga mengganggu proses pendidikan yang semestinya berjalan berdasarkan kepercayaan dan penghormatan terhadap kompetensi guru sebagai pengajar dan pendidik.
Perubahan nilai di masyarakat telah mempengaruhi persepsi terhadap guru. Era global membawa pergeseran dari budaya hormat pada figur otoritatif menuju budaya egalitarian, dimana otoritas tidak lagi diterima secara otomatis, melainkan harus dibangun melalui kompetensi dan kedekatan emosional. Masyarakat yang semakin kritis turut membentuk pola interaksi baru, di mana siswa dan orang tua merasa memiliki ruang untuk mempertanyakan metode, keputusan, bahkan kebijakan guru. Ketika masalah muncul, guru tidak jarang menjadi pihak yang disalahkan terlebih dahulu, menandai berkurangnya legitimasi sosial mereka sebagai guru.
Dampak Media Digital terhadap Wibawa Pendidik
Media digital telah menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat degradasi otoritas guru dalam beberapa tahun terakhir. Akses informasi tanpa batas, peserta didik kini memperoleh pengetahuan dari berbagai platform seperti YouTube, TikTok, atau Instagram, yang sering kali lebih menarik daripada pembelajaran di kelas. Kondisi ini membuat guru tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya sumber ilmu, sehingga wibawa akademis guru mengalami pengurangan secara perlahan.
Media sosial menciptakan ruang publik yang sering kali tidak ramah bagi guru. Kesalahpahaman kecil di kelas dapat direkam dan disebarluaskan tanpa konteks, menghasilkan stigma negatif yang mempengaruhi citra profesional guru. Fenomena viral culture menjadikan guru mudah dihakimi oleh opini publik sebelum klarifikasi diberikan. Hal ini menempatkan guru pada situasi psikologis yang tidak aman.
Penggunaan media digital oleh siswa dapat membentuk pola interaksi baru yang cenderung kurang menghargai batas otoritas. Konten hiburan yang mendominasi ruang digital mempengaruhi cara siswa menilai otoritas: mereka lebih menghormati figur viral daripada figur akademis. Akibatnya, guru harus berjuang lebih keras untuk membangun kepercayaan dan otoritas di kelas. Memulihkan wibawa guru memerlukan kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan negara untuk menciptakan ekosistem digital yang lebih adil dan mendidik bukan ruang yang menjatuhkan martabat pendidik.
Pengaruh Pola Asuh Modern
Pola asuh modern yang cenderung permisif menjadi salah satu faktor yang berkontribusi besar terhadap degradasi otoritas guru. Banyak orang tua kini menempatkan anak sebagai pusat perhatian dan keputusan keluarga, sehingga kritik atau disiplin dari guru sering dianggap sebagai ancaman, bukan bagian dari proses pendidikan. Akibatnya, ketika terjadi masalah di sekolah, sebagian orang tua langsung membela anak tanpa menelusuri fakta, membuat guru kehilangan dukungan moral yang seharusnya menjadi fondasi kerja sama pendidikan.
Fenomena over parenting juga membuat anak (peserta didik) kurang terbiasa menghadapi aturan dan konsekuensi. Ketika guru mencoba menegakkan disiplin, respons siswa seringkali berupa penolakan, sementara orang tua justru memperkuat resistensi tersebut. Kondisi ini menempatkan guru pada posisi dilematis: menjalankan tugas profesional berisiko konflik, tetapi membiarkan pelanggaran berarti mengabaikan tanggung jawab mendidik.
Pola asuh modern yang tidak diimbangi dengan pemahaman tentang pentingnya otoritas guru, sekolah akan kesulitan menciptakan lingkungan belajar yang bermakna. Kepercayaan orang tua terhadap guru bukan hanya dukungan interpersonal, tetapi prasyarat penting bagi keberhasilan Pendidikan.
Degradasi otoritas guru jelas berdampak pada kualitas pendidikan. Ketika guru kehilangan ruang untuk mengajar dengan tegas dan mendidik dengan penuh wibawa, proses belajar akan kehilangan arah. Otoritas bukan soal kekuasaan, melainkan tentang legitimasi moral dan profesional untuk membimbing peserta didik. Tanpa otoritas, guru hanya menjadi fasilitator administratif, bukan pendidik sejati.(***)