Super User

Super User

Penulis: Rahmaniar Azi, S.Sos., M.Pd. (Praktisi Pendidikan)

Kurikulum dapat dikatakan sebagai panduan atau rencana belajar yang berisi apa yang harus dipelajari, bagaimana cara mempelajarinya, dan bagaimana cara mengevaluasi hasil belajar tersebut. Untuk kurikulum rumah, orang tua hanya perlu memulai dengan menarasikan karakter anak, usianya, potensi, dan keunikannya. Dari kebiasaan anak yang dapat diamati sehari-hari, maka dapat dielaborasi dengan merancang kegiatan yang tepat untuk anak melalui pendekatan pendidikan berbasis fitrah.

Pendidikan berbasis fitrah dapat diterapkan berdasarkan beberapa indikator fitrah, seperti fitrah keimanan, fitrah belajar dan bernalar, fitrah bakat, serta fitrah seksualitas (Harry Santosa, Fitrah Based Education, 2016). Penerapannya pun mesti disesuaikan dengan usia anak, yang mana ada empat tahapan dalam pendidikan anak, yaitu usia latihan 0–6 tahun, lalu masuk pada fase pra akil baligh pertama 7–10 tahun, fase pra akil baligh kedua 11–14 tahun, dan fase akil baligh, yaitu di atas 14 tahun.

Untuk fase pra akil baligh pertama (0–6 tahun), orang tua dapat mendidik anak dengan pendekatan fitrah keimanan melalui penanaman tauhid dengan kecintaan terhadap Allah melalui ciptaan-Nya, membacakan kisah-kisah teladan dalam Islam, serta mengajarkan shalat namun belum mewajibkannya. Orang tua juga bisa mengajak anak jalan-jalan menikmati keindahan ciptaan Allah sambil berkisah tentang kebesaran Allah. Program ini bisa dibuat dalam bentuk jadwal tersusun dan pada akhir kegiatan dibuatkan catatan observasi.

Pada fitrah belajar dan bernalar, tujuannya untuk memancing ide dan inspirasi anak. Orang tua dapat merespons pertanyaan anak dan merangsang cara berpikir kritis pada anak. Apa pun yang ingin anak ketahui, selama itu tidak bertentangan dengan akidah dan tidak mengarah pada penyimpangan akhlak, maka orang tua hendaknya memfasilitasi rasa ingin tahu pada anak. Di usia ini pula anak dapat belajar membaca melalui metode berkisah dan bercerita yang tujuannya merangsang anak untuk memperkaya kosakata, selain itu isi buku cerita juga bisa merangsang imajinasi anak agar kaya wawasan dan kaya akan ide.

Yang tak kalah penting juga di usia ini adalah memperkenalkan anak dengan bahasa ibu sebelum memperkenalkannya dengan bahasa asing. Bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dipelajari seseorang secara alami sejak lahir dari lingkungan terdekatnya, seperti keluarga, dan menjadi dasar cara berpikir serta identitas budaya. Bahasa ibu bisa berupa bahasa daerah (Jawa, Sunda, Buton, Muna, Tolaki, Bugis dan yang lainnya) atau bahkan Bahasa Indonesia jika itu yang pertama dikuasai, serta berfungsi sebagai fondasi komunikasi dan pemahaman budaya yang kuat. Belajar pengurangan dan penjumlahan dapat diajarkan dengan menghitung jumlah kue atau media lainnya yang dapat membuat anak memahami konsep penjumlahan dan pengurangan walau tanpa menggunakan kertas dan pensil. Di usia ini anak ditargetkan dapat menguasai dasar-dasar berhitung dengan materi pelajaran yang konkret.

Untuk fitrah bakat, kenalkan anak dengan beragam profesi, contohnya melalui program jalan-jalan ke profesi yang berbeda atau jelajah bakat. Mulai dari profesi koki, pembuat kue, pembuat roti, peternak, dokter, polisi, dan profesi apa pun yang masih terjangkau oleh tenaga, waktu, dan biaya. Untuk kegiatan ini, ajaklah anak lainnya agar ananda merasa lebih bersemangat, misalnya mengajak sepupu, tetangga yang seusia, atau teman sekelasnya. Tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai pengenalan berbagai macam profesi secara langsung kepada anak sebagai referensi sehingga pada fase usia berikutnya (7–10 tahun) dapat mengerucutkan pilihan untuk program magangnya.

Pada fitrah seksualitas, bentuk pendekatan bagi anak di bawah usia tujuh tahun adalah dengan mengajarkan anggota tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain, juga dengan identifikasi jenis kelamin dan bonding dengan gender yang sejenis, yaitu ibu, nenek, atau bibi jika sang anak perempuan, dan sebaliknya untuk anak laki-laki dekat dengan ayah, kakek, atau pamannya.

Demikian salah satu gambaran umum kurikulum rumah dengan pendekatan pendidikan berbasis fitrah untuk usia pra akil baligh 0–6 tahun. Setiap kegiatan di atas boleh dilakukan berulang atau dimodifikasi dalam bentuk board game agar lebih menyenangkan. Selain itu, biasakan mencatat hasil observasi dan evaluasi kegiatan tersebut. Satu catatan bagi para pendidik rumahan (meminjam istilah Ahmad Ferzal, Seorang konsultan pendidikan) sebelum melangkah pada penyusunan kurikulum untuk anak, yang paling utama adalah membangun bonding dengan anak kita, sehingga orang tua lebih mengenali karakter dan sifat uniknya, sehingga dapat menyusun program sesuai dengan kebutuhan anak masing-masing.

Saat memasuki fase usia pra akil baligh pertama (7–10 tahun), metodenya lebih kepada pengaplikasian pembelajaran pada fase sebelumnya. Pada fitrah keimanan, anak sudah diperintahkan untuk shalat. Lalu pada fitrah belajar dan bernalar, anak sudah mulai diarahkan untuk menghasilkan karya sederhana sebagai buah dari penalaran dan berpikir kritis di usia sebelumnya. Pada fitrah bakat, anak mulai melaksanakan magang pada profesi yang menarik minatnya sebagai pengalaman baru serta pembentukan karakter sabar, tekun, patuh, dan disiplin.

Lalu pada fitrah seksualitas, anak diakrabkan dengan gender yang berlawanan. Jika anak perempuan, didekatkan dengan sosok ayah atau kakeknya, dan sebaliknya anak laki-laki didekatkan dengan sosok ibu atau neneknya. Tujuannya adalah melatih jiwa sosial dan rasa empati anak terhadap seseorang yang berbeda gender dan otomatis memiliki pola pikir yang berbeda. Selain itu, dengan mendekatkan anak pada gender yang berbeda dengannya, maka asupan sisi maskulin 25% untuk anak perempuan ataupun sisi feminin 25% untuk anak laki-laki yang dibutuhkan setiap manusia dapat terpenuhi.

Menurut Adriano Rusfi, seorang Psikolog senior dalam bukunya Menjadi Ayah Pendidik Peradaban (2018), setiap anak perempuan hendaknya dididik dengan sisi feminin 75% dan sisi maskulin 25%. Begitu pula sebaliknya, anak laki-laki idealnya dididik untuk memiliki sisi maskulin 75% dan sisi feminin 25%. Tujuannya adalah agar setiap manusia memiliki sisi ketegasan sekaligus kelembutan untuk mengimbangi lawan jenisnya dalam kehidupan sosial, bahkan untuk misi besarnya; dapat memahami dan berinteraksi dengan alam semesta yang sangat kompleks ini.

Pada usia pra akil baligh kedua (11–14 tahun), anak dipersiapkan untuk menjadi pemuda dan pemudi yang belajar bertanggung jawab. Mulailah melibatkan anak dalam diskusi keluarga dan pengambilan keputusan. Hal ini berlaku untuk semua aspek fitrah. Pada fitrah keimanan, indikatornya adalah anak mampu menjadi pribadi yang berakhlak baik serta melaksanakan ibadah, terutama shalat, dengan kesadaran penuh tanpa harus diperintah apalagi dipaksa.

Untuk fitrah belajar dan bernalar, anak diharapkan sudah terlatih bernalar secara sistematis, konsisten, dan terarah. Pada fitrah bakat, anak sudah melakukan program magang dengan serius dan fokus pada tempat magang yang relevan dengan minat dan potensinya. Pada fitrah seksualitas, anak kembali didekatkan dengan gender yang sama dalam keluarganya. Tujuannya adalah agar anak mendapatkan referensi tentang perilaku, pola pikir, serta bagaimana seharusnya menjadi perempuan atau laki-laki yang ideal sesuai dengan agama dan norma masyarakat.

Saat memasuki fase usia akil baligh, yaitu di atas 14 tahun, anak diharapkan dapat menjadi pribadi yang beriman dan berakhlak baik, mandiri, serta memiliki prinsip dalam dirinya, melibatkan Allah dalam setiap pengambilan keputusan, dan mampu memikul amanah yang diberikan, baik dalam keluarga, lingkungan rumah, maupun lingkungan sekolah.

Catatan untuk Orang Tua:

Sesungguhnya kurikulum rumah disusun bukan untuk menyaingi kurikulum di sekolah, melainkan untuk melengkapi apa yang tidak diperoleh di bangku sekolah. Upayakan agar pelaksanaan program dalam kurikulum tersebut tidak bertabrakan dengan jadwal belajar di sekolah, melainkan dapat diselipkan pada akhir pekan. Namun, observasi sikap dan kegiatan sehari-hari anak dapat diupayakan untuk dilakukan setiap hari, walaupun hanya sekadar dokumentasi dan catatan kecil. Evaluasi juga dapat dilakukan secara berkala.

Akhir kata, yakinlah bahwa setiap orang tua memiliki potensi untuk menjadi pendidik anaknya di rumah, apa pun latar belakang pendidikan dan profesinya. Karena Allah telah memberikan anugerah sekaligus amanah anak kepada seorang ayah dan ibu, tentunya dengan potensi dan fitrah ayah bunda yang telah melekat dalam diri kita masing-masing.(***)

 

 

 

Penulis: Rahmaniar Azi,S.Sos.,M.Pd (Praktisi Pendidikan)

Anak adalah amanah dan anugerah dari Tuhan yang paling berharga. Kalimat tersebut tentunya sering kali didengar oleh orang tua manapun. Mendidik anak tidak ada sekolahnya, tidak memiliki jenjang pendidikan. Namun, menjadi orang tua dituntut berperan aktif dalam mendidik dan mengasuh anak menjadi anak yang baik. 

Tugas orang tua yang selalu diucapkan kedengarannya mudah, yaitu menumbuhkan fisik dan mental anak. Perlu disadari, peran menumbuhkan fisik barangkali cukup mudah, dengan memberikan makanan dengan gizi seimbang, mengajarkan pentingnya kesehatan dan kebersihan, mengajarkan kebiasaan berolahraga, dan lain sebagainya. Namun, tugas menumbuhkan mental sungguh sangat kompleks dan harus melibatkan peran ayah dan ibu. Tidak bisa ayah saja dan tidak bisa hanya ibu saja.

Pendidikan yang diterapkan dewasa ini selalu berorientasi pada pendidikan sekolah, juga capaian prestasi akademik, yang mana tujuannya agar anak mendapatkan nilai yang bagus, dijejali dengan berbagai macam pelajaran yang mempunyai standarnya sendiri-sendiri. Jika anak lemah dalam matematika, maka diberi les matematika. Jika anak lemah dalam bahasa Inggris, maka dilatih agar mampu berbahasa Inggris. Prestasi anak dalam hal akademiklah yang menjadi acuan cerdas atau tidaknya seorang anak di mata orang pada umumnya. Sementara itu, prestasi yang lain seperti olahraga, seni, dan bahasa hanya mendapatkan perhatian dengan porsi yang sedikit. 

Kurikulum yang diterapkan dari masa ke masa juga selalu menganaktirikan keahlian non akademik. Mulai dari kurikulum PPSP tahun 1973 hingga Kurikulum 2013 masih menitikberatkan pada keahlian akademik. Secercah harapan lalu muncul dalam Kurikulum Merdeka yang konsepnya disesuaikan dengan kebutuhan siswa, namun nyatanya dalam pengimplementasiannya masih sama dengan kurikulum terdahulu.

Selain itu, perbedaan kelas antara jurusan IPS dan IPA juga sangat terasa, di mana siswa yang mengambil jurusan IPA lebih mendapatkan privilege untuk masuk ke jurusan kuliah, baik rumpun ilmu eksakta maupun humaniora. Berbeda dengan lulusan SMA dari jurusan IPS yang umumnya hanya bisa memilih jurusan dalam seleksi masuk perguruan tinggi negeri yang relevan dengan jurusannya, yaitu rumpun ilmu humaniora. Padahal, kenyataannya tidak sedikit siswa alumni jurusan IPS yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata siswa pada umumnya. 

Keuntungan dari jurusan IPA tidak hanya sebatas kemudahan dalam memilih jurusan pada seleksi masuk PTN saja, namun juga berlaku untuk sekolah tinggi kedinasan. Siswa dari jurusan IPS tidak memenuhi syarat pada beberapa sekolah kedinasan.

Apakah pola pendidikan seperti ini sudah tepat?

Setiap anak unik dan terlahir dengan fitrah.

“Mulailah selalu dari sisi cahaya anak-anak kita, bukan sisi gelapnya. Karena jika cahaya telah melebar menerangi semua sisi, maka kegelapan menjadi tidak relevan. Bukankah kegelapan hanya ada ketika cahaya tiada?” (Harry Santosa, 2016).

Fitrah menurut pengertian sederhananya sering dimaknai sebagai suci atau potensi. Pendapat ilmuwan barat yang mengatakan bahwa anak terlahir bagaikan kertas kosong tidak sepenuhnya benar, karena setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah dan sudah terinstal potensinya masing-masing oleh Allah Swt. Tidak ada satu anak pun yang terlahir tanpa potensi dalam dirinya.

Menurut Harry Santosa, seorang tokoh parenting, dalam bukunya Fitrah Based Education dijelaskan bahwa ada berbagai tahapan dalam pendidikan berbasis fitrah. Tahapan tersebut bermula dari membangkitkan potensi, kemudian gairah beraktivitas yang berangkat dari potensi dan berujung pada karya atau peran. Project Based Learning (PBL) adalah bagian dari aktivitas fitrah belajar dan bernalar. Ujung dari potensi ini adalah peran rahmatan lil alamin, dan puncaknya adalah akhlak atau adab pada alam. Sederhananya, yang dimaksud peran rahmatan lil alamin adalah inovasi sains untuk melahirkan manfaat. Karenanya, dalam Islam, “learning is not for learning”, tetapi “learning for innovation”.

Tidak setiap anak berbakat akademis, tetapi patut diyakini bahwa setiap anak pasti memiliki bakat, potensi, dan peran spesifik dalam peradaban. Jika seorang anak terlihat malas bersekolah dan nilainya selalu merah, maka tidak berarti anak tersebut bodoh. Yang tepat adalah anak tersebut belum dapat menemukan potensi dalam dirinya akibat banyaknya penjejalan materi di sekolah yang tidak ia sukai, juga pola pembelajaran yang menyamaratakan semua anak tanpa melakukan pendekatan terhadap gaya belajar yang berbeda-beda pada setiap anak. Akibatnya, anak akan stres dan semakin jauh dari kesuksesan karena bakatnya selalu terpendam dan sulit ditemukan.

Dalam menghadapi anak yang non akademis, orang tua hanya perlu memfasilitasi anak untuk menemukan jalan suksesnya sesuai dengan potensi mereka masing-masing. Misalnya, seorang anak yang tidak cerdas dalam matematika, bahasa Inggris, dan pelajaran umum lainnya, tetapi menyukai pelajaran olahraga, maka jangan dipaksa untuk unggul dalam bidang yang tidak ia kuasai. Sebaliknya, potensi olahraga tersebut dapat dioptimalkan agar ia dapat meraih prestasi dalam bidang yang disukainya. Sebagai orang tua yang merupakan pendidik utama anak, perlu dipahami bahwa mendidik berbeda dengan mengajar. 

Oleh karena itu, tidak perlu mengubah rumah menjadi sekolah, tetapi jadikanlah rumah sebagai taman peradaban, tempat anak-anak bertumbuh sesuai fitrah dan bakatnya. Jika rumah hanya menjadi tempat untuk tidur setelah lelahnya aktivitas sekolah, lalu sekolah menjadi pusat pendidikan utama bagi anak, maka akan terlahir generasi yang menguasai banyak hal, tetapi kerdil jiwanya. Dengan menghidupkan rumah sebagai pusat pendidikan, diharapkan dapat mengembalikan peran keayahan dan peran keibuan yang sudah menjadi fitrah orang tua, agar anak-anak dapat tumbuh cerdas dengan perannya masing-masing dalam mewarnai dunia yang diiringi dengan akhlak yang baik.(Bersambung)

 

 

KENDARI,GAGASSULTRA.COM-Peringatan Hari Ibu 22 Desember 2025 bagi Majelis Forum Alumni HMI Wati (Forhati) Sulawesi Tenggara (Sultra) begitu besar dalam mengawal proses kehidupan. Untuk itu, dengan mengangkat tema ‘Ibu : Sang Penjaga Bumi’ merawat kehidupan serta merawat masa depan menjadi topik utama dalam Webinar Nasional yang di gelar Forhati Sultra, Jum'at (26/12/2025).

Webinar ini hadir sebagai momentum refleksi dan aksi kolektif untuk menguatkan peran perempuan, khususnya ibu, dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan, keberlanjutan lingkungan, serta masa depan generasi bangsa. Ibu tidak hanya diposisikan sebagai sumber kasih sayang dan pengasuhan, tetapi juga sebagai penjaga nilai sosial, budaya, dan ruang hidup bersama yang lestari.

Acara ini diharapkan menjadi wadah inspiratif untuk membahas peran strategis ibu dalam merawat kehidupan dan pelestarian bumi, sehingga generasi yang lahir dan dibesarkan memiliki kesadaran ekologis dan komitmen kolektif terhadap kelestarian alam.

Webinar menghadirkan dua narasumber dari kalangan akademisi antara lain dengan pembicara utama Dr.Zurmailis, MA dosen sastra Indonesia Universitas Andalas dan Dr, Hj Irma Irayanti, M.Pd Dosen IAIN. 

DR. Zurmailis mengusung tema “Dua sisi wajah perempuan yang Mencerminkan Kondisi Alam” Sedangkan Dr. Irma mengusung tema “IBu dan Bumi: Dua Kehidupan, Satu Tanggungjawab”. Tak luput menjadi pembahasan adalah, peran ibu dalam pendidikan nilai, serta kontribusi aktif perempuan dalam upaya keberlanjutan lingkungan. 

Webibar yang diikuti berbagai kalangan, mulai dari akademisi, aktivis perempuan, mahasiswa dan umum tersebut dimoderatori oleh Islmiyah Hasari, S.Pd., M.Pd.

Sementara itu, Koordinator Presidium FORHATI Sultra, Rahmawati Azi mengatakan, perempuan dalam perannya sebagai ibu memiliki tanggung jawab ganda, merawat kehidupan keluarga sekaligus menjaga bumi sebagai tempat hidup bersama. Sebagai organisasi alumni perempuan yang aktif dalam pemberdayaan perempuan dan kegiatan sosial, FORHATI Sultra melihat keterkaitan antara peran ibu dan keberlanjutan ekologi sebagai bagian integral dari pembangunan manusia yang beradab dan berkelanjutan.

“Perempuan bukan hanya agen pengasuh keluarga, tetapi juga penjaga ekologi komunitas dan bumi, karena dari peran itulah terbentuk generasi yang peduli terhadap lingkungan dan nilai-nilai kehidupan yang berkelanjutan,”ungkapnya.

Untuk itu, Uci sapaan akrab Rahmawati mengharapkan, melalui webinar ini, FORHATI Sultra mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya kaum perempuan, ibu, pelajar, akademisi, dan pelaku perubahan untuk bersama-sama meneguhkan komitmen dalam merawat kehidupan dan menjaga masa depan bumi demi generasi yang lebih berdaya dan planet yang lebih lestari. (Rin/Red)

 

 

 

Oleh : Rahmawati Azi (Korpres Forhati Sultra)

Menutup tahun 2025, Forum Alumni HMI-Wati (FORHATI) Sulawesi Tenggara (Sultra) tidak sekadar menghitung waktu yang berlalu, tetapi mengajak untuk merefleksikan posisi kita di alam semesta ini. Rangkaian kegiatan, mulai dari Milad FORHATI, Sekolah Ekofeminisme, hingga Webinar Hari Ibu bertema “Ibu: Sang Penjaga Bumi” menjadi satu kesatuan kesadaran: bahwa perempuan, ibu, dan bumi berada dalam simpul perjuangan yang sama, dirawat atau dilukai tergantung cara manusia memaknai kehidupan.

Milad FORHATI bukan hanya perayaan usia, tetapi momentum meneguhkan kembali jati diri perempuan intelektual yang berpihak pada kehidupan. Di sana, FORHATI menegaskan bahwa keberpihakan pada perempuan tidak pernah terpisah dari keberpihakan pada keadilan sosial, pendidikan, dan keberlanjutan lingkungan.

Kesadaran itu kemudian menapak pada Sekolah Ekofeminisme, ruang belajar yang tidak sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi menumbuhkan keberanian berpikir kritis. Ekofeminisme mengajarkan bahwa krisis ekologis dan ketidakadilan terhadap perempuan berakar pada logika yang sama: eksploitasi, dominasi, dan pengabaian relasi. Dari tanah yang dirusak hingga tubuh perempuan yang dikendalikan, semuanya berangkat dari cara pandang yang memutus hubungan manusia dengan empati dan tanggung jawab, di beberapa kesempatan, saya menyebutnya kolaborasi antara androsentrisme dan kapitalisme.

Dahulu, para ibu berjuang di kongres demi kongres demi kesetaraan di bidang-bidang kehidupan yang vital bagi eksistensi kemanusiaan, sebuah momentum sejarah yang menegaskan peran perempuan bukan hanya dalam ranah domestik, tetapi juga dalam perjuangan sosial, pendidikan, dan kebangsaan. Hari ini, FORHATI memaknai Hari Ibu sebagai penghormatan atas kesadaran, keberanian, dan tanggung jawab perempuan dalam merawat kehidupan.

Dalam konteks inilah, Webinar Hari Ibu “Ibu: Sang Penjaga Bumi” menjadi ruang refleksi kolektif. Ibu tidak lagi dipahami semata sebagai simbol domestik, melainkan sebagai subjek kesadaran ekologis dan moral. Ibu adalah penjaga nilai, penenun etika, dan pewaris kebijaksanaan lintas generasi. Dari rahim kesadaran ibu, diharapkan lahir generasi yang memahami bahwa merawat bumi adalah bagian tak terpisahkan dari merawat kemanusiaan itu sendiri.

Di penghujung tahun ini, FORHATI belajar bahwa perubahan besar selalu berawal dari kesadaran yang dirawat secara konsisten, dari ruang-ruang kecil, dari dialog, dari pendidikan, dan dari keberanian untuk berpihak. Tahun boleh berganti, tetapi komitmen untuk menjaga kehidupan tidak boleh surut.

Dengan refleksi ini, FORHATI melangkah ke tahun berikutnya dengan satu keyakinan: selama perempuan dan ibu terus diberi ruang, didengar, dan dikuatkan, maka harapan bagi bumi dan masa depan akan tetap menyala.(***)

 

 

KENDARI,GAGASSULTRA.COM – Memasuki masa liburan semester pertama dimanfaatkan Yayasan Zawiyah Baluwu (YZB) Kendari menggelar Program Liburan Edukatif. Program liburan edukatif kali ini memilih tema Pelatihan Menulis untuk Generasi Alpha dan Generasi Z.

Kegiatan ini berlangsung di Sekretariat YZB Kendari di Ranomeeto, Konsel,Senin (22/12/2025) yang diikuti oleh pelajar tingkat SMP hingga SMA.

Pelatihan ini menghadirkan Coach Rahmawati Azi, S.Pd., M.A, Dosen Sastra di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo (UHO) yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Zawiyah Baluwu, sebagai pemateri utama. Diskusi dan sesi pelatihan dipandu oleh Raihan Jundillah, siswa MAN IC Kendari, sebagai moderator.

Acara dipandu oleh Ahmad Faiz Khairul Ilmi, siswa SMA Negeri 4 Kendari, yang juga membagikan testimoni serta pengalaman pribadinya dalam dunia kepenulisan. Kehadirannya memberi motivasi tersendiri bagi peserta untuk berani menulis dan mengekspresikan ide.

Sekretaris Yayasan Zawiyah Baluwu, Rahmaniar Azi, S.Sos., M.Pd, menjelaskan, pelatihan ini dirancang untuk mengenalkan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) secara bijak dalam kegiatan menulis.

“Tujuan pelatihan ini adalah agar anak-anak mampu menggunakan AI sebagai alat bantu dalam menulis, namun ide, gagasan, dan kreativitas tetap sepenuhnya berada di tangan mereka,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, liburan edukatif YZB Kendari adalah program rutin setiap liburan semester. Tujuannya, liburan anak bisa diisi dengan hal-hal yang lebih produktif dalam bentuk eduwisata.

“Ini kali pertama dilaksanakan dalam bentuk pelatihan. Harapannya, makin berjejaring dengan komunitas atau para ahli dibidangnya,”harapnya.

Salah satu peserta, Davina Kayla, mengungkapkan kesan positifnya terhadap kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan ini terasa menyenangkan dan memberi ruang ekspresi.

“Kegiatannya seru karena kita bisa mengekspresikan diri lewat tulisan, lalu dibantu AI supaya lebih rapi. Tapi tetap kita yang mengendalikan AI sesuai dengan yang kita mau,” tuturnya.

Melalui kegiatan ini, YZB Kendari berharap dapat menumbuhkan minat literasi, kreativitas menulis, serta kemampuan berpikir kritis generasi muda, khususnya dalam menghadapi perkembangan teknologi di era digital.(Rin/Red)

 

KENDARI, GAGASSULTRA.COM - Turnamen sepak bola usia dini bergengsi, CISC (Chelsea Indonesia Supporter Club) Kendari Cup 1, resmi ditutup, Minggu (21/12/2025). Ajang yang diikuti sebanyak 154 tim dari Sulawesi Tenggara (Sultra) dan Sulawesi Tengah (Sulteng) ini menobatkan kontingen Sekolah Sepak Bola (SSB) asal Kabupaten Muna sebagai Juara Umum.

Selama enam hari kompetisi (16–21 Desember), tim-tim SSB asal Muna menunjukkan permainan yang sangat disiplin dan penuh talenta. Puncaknya, mereka berhasil mengamankan podium tertinggi di kategori utama, yang membuat akumulasi poin dan perolehan trofi mereka tak terkejar oleh tim-tim dari daerah lain, sehingga layak menyandang gelar Juara Umum.

SSB Asal Kabupaten Muna tampil dominan dengan berhasil membawa pulang tiga piala dari berbagai kelompok usia. Pada kategori U10, Latowua Tongkuno Muna keluar sebagai juara pertama, disusul Inowa Puriala sebagai juara kedua, dan Labibia A menempati posisi ketiga.

Di kelompok usia U12, Anoa A Kendari meraih juara pertama, Garuda Barometer berada di posisi kedua, sementara Latowua Tongkuno Muna kembali naik podium sebagai juara ketiga.

Sementara itu, pada kategori U14, Latowua Tongkuno Muna kembali menunjukkan kekuatan dengan meraih gelar juara pertama. Posisi kedua ditempati Wesalo Koltim, dan juara ketiga diraih Labibia Kendari.

Laga final U10 berlangsung sengit hingga harus ditentukan melalui adu penalti. Tim Latowua Tongkuno Muna akhirnya memastikan kemenangan dengan skor 5–4 atas Inowa Puriala.Ketegangan serupa juga terjadi pada final U14, di mana Latowua Tongkuno Muna kembali menang lewat adu penalti melawan Wesalo Koltim.

Ketua Panitia CISC Cup 1, Akbar Djufri, menyatakan kekagumannya atas kualitas pemain yang muncul dalam turnamen perdana ini. Turnamen ini diharapkan mampu melahirkan bibit-bibit pesepak bola muda berprestasi serta menjadi wadah pembinaan atlet usia dini di daerah.

"Animo peserta luar biasa, ada 154 tim yang bertanding. Kami melihat bibit-bibit unggul masa depan Sultra disini, terutama tim-tim hebat a yang tampil sangat solid dan sportif," ujarnya.

Kemenangan ini disambut haru oleh para orang tua pemain dan official yang mendampingi. Mereka berharap gelar Juara Umum ini menjadi pemantik semangat bagi pemerintah daerah untuk terus mendukung sarana dan prasarana olahraga.

Panitia pun memberikan apresiasi tinggi atas partisipasi dan kualitas permainan yang ditunjukkan seluruh peserta, khususnya tim dari luar Kota Kendari.

"Alhamdulillah, CISC Cup 1 berjalan sukses dan lancar tanpa ada kendala dan hambatan. Kami sangat bangga melihat talenta-talenta muda ini. Selamat kepada SSB asal Muna yang berhasil membuktikan kualitasnya dan keluar sebagai juara umum," pungkasnya.

Keberhasilan ini diharapkan menjadi momentum bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk lebih memperhatikan pembinaan atlet usia dini khususnya di setiap Kota Kabupaten.(Rin/Red)

KENDARI,GAGASSULTRA.COM - Musyawarah Cabang (Muscab) Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) Kota Kendari, Minggu, (21/12/2025) menelorkan,Prof.Najib Husain sebagai Ketua Formatur. Kegiatan ini berlangsung di Aula Lantai 3 Fakultas Hukum Universitas Halu Oleo (UHO).

Dalam Muscab tersebut, awalnya mengusulkan tujuh nama calon ketua. Namun dalam perjalanannya forum akhirnya menetapkan Prof. Najib Husain sebagai ketua dan Dr.Sarkina Safiuddin sebagai Sekretaris.

Muscab yang dihadiri puluhan Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) menyambut positif terpilihnya Prof. Najib Husain sebagai ketua untuk memperkuat peran KAGAMA dalam mendukung pembangunan daerah.

Pada kesempatan tersebut, Prof.Najib Husain bertekad menjadikan KAGAMA Kendari sebagai “Rumah Besar KAGAMA yang inklusif”. Konsep ini menempatkan KAGAMA sebagai wadah bersama yang terbuka bagi seluruh alumni UGM, tanpa sekat latar belakang profesi, usia, maupun bidang keahlian.

“KAGAMA harus menjadi rumah bersama, tempat berkolaborasi dan berkontribusi nyata bagi daerah,” ujar Najib dalam sambutannya.

Untuk itu, pihaknya menegaskan, KAGAMA Kota Kendari harus dibangun melalui kolaborasi strategis dengan pemerintah daerah dan sektor swasta, sehingga tercipta sinergi yang kuat dalam mendukung berbagai program pembangunan.

“Jadi sinergi antara alumni, pemerintah, dan dunia usaha memiliki potensi besar untuk mendorong kemajuan Kendari, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, maupun penguatan sumber daya manusia,”ungkapnya.

Ditambahkan, potensi alumni ini disatukan dan disinergikan, dampaknya akan terasa langsung dalam pembangunan Kota Kendari yang lebih maju dan berdaya saing.

Pelaksanaan Muscab KAGAMA Kota Kendari ini, dirangkaikan dengan peringatan Dies KAGAMA ke-76 yang dilaksanakan secara meriah dan sederhana. (Rin/Red)

KENDARI, GAGASSULTRA.COM – Dua terdakwa kasus operasi tangkap tangan (OTT) pengadaan website Inspektorat Kota Baubau, Amrin Abdulah (AA) dan La Ode Muhaimin (LM) dinyatakan bersalah oleh Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Kendari, Jum'at (19/12/2025). Kedua terdakwa masing-masing divonis 4 tahun dan 6 bulan penjara serta denda Rp 200 Juta.

Putusan ini lebih ringan dibandingkan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU). Dimana, terdakwa AA sebelumnya ditutut 8 tahun dan 6 bulan penjara. Sedangkan, terdakwa LM dituntut 5 tahun dan 6 bulan penjara.

Sidang putusan yang digelar di ruang sidang Tipikor PN Kendari tersebut dipimpin Ketua Majelis Hakim Arya Putra Negara Kutawaringin, SH, MH, didampingi hakim anggota Drs. Parsungkunan, SH, MH dan Muhammad Nurjalil, SH, MH.

Dalam amar putusannya, majelis hakim menyatakan kedua terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama berupa pemerasan dalam jabatan sebagaimana dakwaan Jaksa Penuntut Umum.

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Amrin Abdullah dan La Ode Muhaimin dengan pidana penjara masing-masing selama 4 tahun dan 6 bulan serta denda sebesar Rp200 juta, dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 2 bulan,” kata Ketua Majelis Hakim Arya Putra Negara Kutawaringin saat membacakan amar putusan.

Dalam pertimbangannya, majelis hakim menegaskan, perbuatan para terdakwa dilakukan secara bersama-sama dan bertentangan dengan prinsip penyelenggaraan pemerintahan yang bersih serta akuntabel. Tindakan tersebut dinilai telah mencederai kepercayaan publik, khususnya dalam proses pengadaan barang dan jasa di lingkungan pemerintah daerah.

Usai pembacaan putusan, majelis hakim memberikan waktu kepada Jaksa Penuntut Umum maupun para terdakwa untuk menyatakan sikap atas putusan tersebut. Baik JPU maupun pihak terdakwa diberikan waktu selama 7 hari untuk menyatakan apakah menerima putusan atau menempuh upaya hukum lanjutan.

Usai pembacaan putusan, sidang dinyatakan selesai dan ditutup.(Rin/Red)

BAUBAU, GAGASSULTRA.COM - Aris Sujadmiko Martono resmi mendaftar sebagai calon Ketua Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Kota Baubau. Pendaftaran calon ketua resmi ditutup Senin (15/12/2025) pukul 23.59 WITA

Miko sapaan akrab Sujadmiko, kepada Gagassultra.com mengatakan,dirinya mengakui memilih sebagai pendaftar terakhir untuk melihat sejauh mana peminat sebagai calon partai Hanura Baubau sebagai salah satu partai yang diperhitungkan saat ini

“Partai Hanura di Baubau itu ibarat gadis cantik. Jadi sa memilih menjadi pendaftar terakhir sebelum penutupan,”ungkapnya.

Untuk itu, kata Sujatmiko, keputusannya memilih sebagai pendaftar terakhir melihat sejauh mana peminat Hanura sebagai salah satu parpol yang menjadi perhatian warga Kota Baubau.

“Saya kader tulen Partai Hanura, kepengurusan Partai Hanura saya sekretaris di kepengurusan 2020-2025. Jadi untuk membesarkan partai bukan urusan baru buat saya,”kata Miko usai mendaftar.

Sementara itu, Muh Toufan Akhmad Ketua Panitia Seleksi Penjaringan Calon Ketua DPC Hanura Kota Baubau mengatakan, hingga penutupan pendaftaran mengaku sudah lima resmi mendaftar. 

“Hingga penutupan pendaftaran lima orang yang sudah resmi mendaftar. Dan Saya pastikan semua yang mendaftar adalah kader Partai Hanura,”ungkapnya.

Untuk diketahui, hingga penutupan pendaftaran ada lima yang mendaftar diantaranya Noor Gemilang Siradja, Naslia Alu, Hj. Ratna, La Ode Yasin dan Aris Sujadmiko Martono. (Rin/Red)

KENDARI, GAGASSULTRA.COM-Forum Alumni HMI-Wati (FORHATI) Sulawesi Tenggara (Sultra) sukses menyelenggarakan rangkaian kegiatan dalam rangka milad ke-27, Sabtu (13/12/2025) di KAHMI Center Kendari. Kegiatan milad tahun ini dengan tema “Perempuan Merawat Bumi”. 

Koordinator Forhati Sultra, Rahmawati Azi kepada media ini mengatakan, sebagai wujud nyata komitmen kelembagaan terhadap pelestarian lingkungan dan pemberdayaan perempuan dalam konteks ekologis. Rangkaian kegiatan dibuka dengan Sekolah Ekofeminisme dengan menggandeng Komunitas Handari Perma Kultur Puwatu.

Dikatakan, dalam kegiatan ini para peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman tentang prinsip-prinsip ekofeminisme, tetapi juga langsung belajar pendekatan hidup berkelanjutan melalui metode perma culture.

“Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kesadaran bahwa perjuangan perempuan tidak hanya terkait pada kesetaraan sosial, tetapi juga pada peran strategis merawat bumi sebagai sumber kehidupan bersama,”ungkapnya.

Belajar di Komunitas Handari Perma Kultur Puwatu

Selanjutnya, peserta mengikuti Pelatihan Pembuatan Kombucha, sebuah praktik fermentasi sehat yang mencerminkan prinsip ketahanan pangan lokal dan kemandirian keluarga. 

“Pelatihan ini tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga membangun kesadaran akan hubungan manusia dengan mikro-ekosistem yang membantu mendukung kesehatan dan keseimbangan lingkungan,”jelasnya.

Potong Tumpeng, Simbol Syukur dan Harapan Baru

Rangkaian kegiatan ditutup dengan Pemotongan Tumpeng di KAHMI Center, yang sekaligus menjadi simbol syukur, kebersamaan, dan harapan baru. Momentum ini juga menjadi ruang refleksi untuk membahas peran perempuan sebagai penjaga harmoni ekologis dan sosial dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks.

Rahmawati Azi pada kesempatan tersebut menjelaskan, tema ‘Perempuan Merawat Bumi’ adalah tema yang dipilih bukan hanya karena itu mengena, tetapi karena ini adalah tanggapan terhadap kondisi bangsa yang sedang dilanda berbagai bencana ekologis akibat dari keserakahan tangan-tangan penguasa yang berkolaborasi dengan kapitalisme yang destruktif. 

‘Forhati dengan segala keterbatasannya ingin mengambil peran dalam menjaga dan merawat bumi. Ini bukan sekadar slogan, tetapi panggilan untuk bertindak secara kolektif dan konkrit.”jelasnya.

Ditambahkan, rangkaian kegiatan ini merupakan langkah awal dari program kerja FORHATI yang akan terus memperluas pendidikan ekofeminis dan jejaring kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat dan organisasi lingkungan.

Milad FORHATI 2025 menjadi bukti bahwa perempuan tidak hanya hadir sebagai subjek perubahan, tetapi juga sebagai agen aktif yang mengambil peran kecil namun signifikan untuk cinta lingkungan, keadilan sosial, dan masa depan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.(Rin/Red)

 

 

Pencarian