Oleh: Rahmawati Azi (Presidium FORHATI SULTRA, Dosen Sastra Inggris,FIB UHO, Koordinator Lajnah Wathonah IW JATMAN SULTRA)
Setiap awal Juni, hiruk-pikuk peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia kembali menyapa kita. Dalam diskursus publik, kita kerap kali terjebak pada satu metafora yang nyaman namun secara diam-diam melumpuhkan: "Ibu Pertiwi yang menangis" atau "alam yang tersakiti". Metafora ini, meski lahir dari niat baik untuk membangkitkan empati, secara tak sadar mengunci alam, dan sering kali, perempuan, pada posisi korban yang pasif. Mereka digambarkan rapuh, berdarah, dan hanya bisa menunggu belas kasihan atau "penyelamatan" dari luar.
Di era post-truth ini, saat krisis iklim kerap direduksi menjadi sekadar wacana politik atau ajang greenwashing korporat, sudah saatnya kita membongkar klise tersebut. Sastra dan refleksi spiritual menawarkan jalan keluar: sebuah narasi yang melampaui status korban, menuju pengakuan akan agensi, ketangguhan (resilience), dan kekuatan penyembuhan yang ada pada perempuan dan alam.
Menempatkan perempuan dan alam sebagai "korban abadi" adalah perpanjangan dari logika dominasi yang sama. Keduanya direduksi menjadi objek. Dalam sudut pandang ekoteologi, diskursus ini harus dibaca ulang. Ekoteologi hadir untuk menawarkan pembacaan ulang yang membebaskan, salah satunya melalui konsep khalifah. Selama ini, khalifah sering disalahpahami sebagai "penguasa" yang berhak mengeksploitasi. Padahal, dalam esensi teologisnya, menjadi khalifah berarti menjadi pengasuh yang memelihara keseimbangan semesta. Di sinilah letak persinggungannya dengan ekofeminisme: peran pengasuhan bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah epistemologi perawatan (ethics of care). Merawat bumi adalah manifestasi spiritual dari tugas kekhalifahan; sebuah praktik cinta (mahabbah) yang menolak logika instan kapitalisme.
Pergeseran dari "korban" menuju "agen penyembuh" dan "mitra setara" ini terekam indah dalam literatur. Dalam khazanah sastra Inggris, C.S. Lewis menawarkan visi ekologis yang radikal melalui serial The Chronicles of Narnia, khususnya dalam Prince Caspian dan The Voyage of the Dawn Treader. Lewis menggunakan antropomorfisme bukan sekadar sebagai hiasan dongeng, melainkan sebagai dekonstruksi tajam terhadap hierarki manusia dan alam. Namun, dekonstruksi hierarki dan pengakuan akan agensi alam ini tidak hanya milik sastra Barat. Jauh sebelum itu, khazanah sastra kontemporer Indonesia dan tradisi lisan di Nusantara, khususnya Sulawesi Tenggara, telah lama mempraktikkan dan merekam hal serupa dengan cara yang jauh lebih membumi dan kontekstual.
Dalam Prince Caspian, ketika Aslan meniupkan kebangkitan, hutan tidak diam membiarkan dirinya ditebang oleh Raja Miraz yang tiran. Hutan itu "bangun". Muncul para Dryad (roh pohon) dan Dewa Sungai yang secara aktif, bahkan dengan kekuatan yang menyeramkan, menghancurkan jembatan besi para penindas. Alam digambarkan memiliki agensi, amarah, dan kehendaknya sendiri. Ia bukan objek pasif yang menunggu diselamatkan oleh manusia, melainkan subjek yang ikut tertarik menjaga keseimbangan.
Pada The Voyage of the Dawn Treader, antropomorfisme melampaui bentuk fisik; alam dan kosmos menyatu dalam spiritualitas yang hidup. Bintang-bintang adalah entitas yang bisa turun ke bumi (seperti Ramandu), dan lautan adalah ambang batas yang bernapas menuju yang Ilahi. Lewat antropomorfisme ini, Lewis meruntuhkan batas kaku antara manusia dan non-manusia. Alam dalam Narnia adalah "sesama subjek" yang beribadah. Dalam bingkai ekoteologi, ini adalah cerminan sempurna dari konsep khalifah: manusia dipanggil bukan untuk menundukkan alam yang mati, melainkan untuk bersekutu, mendengarkan, dan merawat "sesama ciptaan" yang hidup dan suci.
Melompat ke konteks Nusantara, di kearifan lokal Sulawesi Tenggara, resonansi ekofeminis ini melampaui apa yang dikenal sebagai fiksi, ideplogi itu inheren dalam tradisi lisan. Dalam struktur masyarakat adat, peran perempuan melampaui batas domestik; mereka adalah subjek ekologis yang aktif menjaga ritme alam. Pengetahuan perempuan dalam merawat benih, membaca tanda laut, hingga menerjemahkan bahasa leluhur dalam ritual-ritual lokal, adalah wujud penolakan halus terhadap ekstraksi sumber daya yang maskulin-agresif dan serakah. Dalam bingkai ekofeminisme, apa yang dilakukan oleh perempuan-perempuan di ruang akar rumput ini bukanlah sekadar tradisi yang pasif, melainkan sebuah praktik politik ekologis dan spiritualitas yang secara sadar merawat (keseimbangan) semesta.
"Resonansi ekofeminis semacam inilah yang tercermin secara mitopoetik dalam folklore Sulawesi Tenggara berjudul Wandiu-Diu, yang mengisahkan seorang ibu yang rela berkorban demi kelangsungan hidup anaknya dengan berani melanggar larangan absolut suaminya untuk memberikan ikan kepada sang buah hati. Tindakan sang ibu ini bukan sekadar pembangkangan domestik, melainkan sebuah penolakan tegas terhadap logika dominasi patriarki yang kaku. Di akhir narasi, sang ibu memilih terjun ke laut dan bermetamorfosis menjadi ikan duyung. Transformasi ini harus dibaca bukan sebagai tragedi atau kehilangan, melainkan sebagai simbol perlawanan sekaligus penyembuhan (healing) yang radikal. Melalui metamorfosis tersebut, ia mengaktualisasikan ethic of care dalam bentuknya yang paling transenden: ia melebur menjadi alam itu sendiri untuk menjamin bahwa keluarganya tidak lagi mengalami kelaparan atau kekurangan ikan. Dengan demikian, Wandiu-Diu menegaskan bahwa dalam ekosistem kultural Nusantara, perempuan dan alam memiliki ikatan simbiosis yang tak terpisahkan; ketika logika kekuasaan manusia gagal menjamin kehidupan, kasih sayang ibu bersekutu dengan kedalaman laut untuk memulihkan keseimbangan dan menjamin keberlanjutan hidup."
Bertolak dari refleksi kultural ini, memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia seyogianya tidak lagi dimaknai sebagai momen untuk mengasihani "Ibu Pertiwi". Ia adalah momentum untuk merayakan dan bersekutu dengan agensi yang sudah hidup di sekitar kita. Merawat bumi adalah tugas lintas gender, lintas organisasi, dan lintas generasi. Tugas kita bukanlah "menyelamatkan" alam dan perempuan yang dianggap lemah, melainkan belajar mendengarkan, merunduk, dan menyulam kembali hubungan yang setara dengan bumi. Sebab, pada akhirnya, merawat alam dengan kesadaran spiritual dan etika perawatan adalah jalan paling sunyi, namun paling sakral, untuk menyucikan diri kita sendiri.(***)