Rabu, 07 Januari 2026 20:45

Ekofeminisme Lintas Organisasi, Lintas Gender dan Lintas Generasi: Jalan Tasawuf Modern Merawat Alam Featured

Written by
Rate this item
(2 votes)

Oleh: Rahmawati Azi (Korpres FORHATI SULTRA, Koord. Lajnah Wathonah JATMAN Sultra)

Dalam tasawuf, krisis ekologis dipahami bukan sekadar sebagai kerusakan lingkungan, melainkan sebagai krisis relasi dan kesadaran manusia. Alam rusak ketika manusia memutus hubungan etis dengannya. Karen J. Warren, dalam diskusi ekofeminisme, menyebut akar persoalan ini sebagai logic of domination, cara berpikir yang membenarkan penguasaan, eksploitasi, dan hierarki, baik terhadap perempuan maupun terhadap alam.

Di tengah krisis tersebut, kolaborasi lintas organisasi seperti FORHATI Sultra, JATMAN Sultra, LESBUMI NU, MWCNU Kecamatan Ranomeeto, dan KOHATI menghadirkan jalan alternatif: kerja sama berbasis perawatan, bukan dominasi. Kerja bersama ini bukan semata koordinasi kelembagaan, melainkan praktik spiritual kolektif untuk membangun etika relasional sebagaimana ditekankan Karen J. Warren, etika yang memandang alam sebagai mitra moral, bukan objek yang boleh dieksploitasi.

Tasawuf mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah yang bertugas menjaga keseimbangan ciptaan. Dalam bahasa Warren, tugas ini menuntut pembongkaran cara berpikir hierarkis yang memisahkan manusia dari alam dan menempatkan sebagian kelompok sebagai superior. Ketika FORHATI dan KOHATI menghadirkan perspektif perempuan dalam agenda ekologis, mereka membuka thinking space kolektif, ruang kesadaran kritis yang selama ini tertutup oleh narasi pembangunan eksploitatif.

JATMAN Sultra menghadirkan dimensi spiritual yang menegaskan bahwa alam adalah tanda-tanda Tuhan yang hidup, sehingga merusaknya berarti mengkhianati amanah kehadiran manusia di bumi. LESBUMI NU, melalui pendekatan budaya dan seni, menghidupkan kembali hubungan emosional manusia dengan alam, hubungan yang dalam tasawuf disebut mahabbah, dan dalam ekofeminisme Warren dipahami sebagai relasi non-dominatif. MWCNU Kecamatan Ranomeeto memastikan bahwa kesadaran ini berakar kuat di tingkat komunitas dan tidak berhenti sebagai wacana elite.

Komitmen etis tersebut kemudian menemukan bentuk konkretnya dalam Gerakan Sejuta Pohon. Gerakan ini bukan hanya aksi ekologis, tetapi juga simbol spiritual dan komitmen serta upaya nyata perawatan dan pemeliharaan. Menanam pohon adalah tindakan merawat kehidupan secara perlahan, sabar, dan berjangka panjang, nilai yang sejalan dengan etika ekofeminis Karen J. Warren dan ajaran tasawuf tentang kesungguhan dalam menjaga amanah. Pohon menjadi simbol perlawanan terhadap logika instan kapitalisme yang ingin hasil cepat tanpa memikirkan keberlanjutan.

Dalam Gerakan Sejuta Pohon, perempuan dan laki-laki bekerja berdampingan, senior dan yunior saling melengkapi. Inilah praktik nyata penolakan terhadap logic of domination. Tidak ada pihak yang lebih tinggi, tidak ada peran yang lebih mulia; yang ada hanyalah tanggung jawab bersama untuk menjaga kehidupan. Setiap pohon yang ditanam adalah kesaksian bahwa relasi manusia dan alam bisa dibangun atas dasar cinta, bukan penaklukan.

Ekofeminisme lintas organisasi yang dipraktikkan melalui Gerakan Sejuta Pohon menunjukkan bahwa merawat alam adalah praktik spiritual kolektif yang berdampak secara sosial. Dalam tasawuf, ini adalah bagian dari penyucian diri dari keserakahan dan kesombongan. Dalam teori Karen J. Warren, ini adalah pembongkaran cara berpikir dominatif dan pembangunan etika relasional. Keduanya bertemu pada satu tujuan: menjaga bumi sebagai ruang kehidupan yang adil, lestari, dan penuh kasih.

Dengan demikian, Gerakan Sejuta Pohon dapat dipahami sebagai praksis ekofeminisme lintas generasi dan gender: sebuah pengalaman belajar kolektif yang hidup dan mentransmisikan nilai kepedulian ekologis dari satu generasi ke generasi lain, sambil menegaskan bahwa kerja merawat bumi bukan kodrat eksklusif perempuan, melainkan tanggung jawab etis seluruh umat manusia. Di titik inilah tasawuf dan ekofeminisme bertemu, keduanya mengafirmasi bahwa keadilan ekologis hanya akan terwujud ketika relasi manusia-alam, laki-laki-perempuan, dan masa kini-masa depan, dibangun di atas cinta, melampaui logika binner menuju logika double coding, dengan demikian, secara aksiologis menuju harmoni dan keberlanjutan.(***)

 

 

 

Read 160 times

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.

Pencarian