Oleh : Rahmawati Azi (Korpres Forhati Sultra)
Menutup tahun 2025, Forum Alumni HMI-Wati (FORHATI) Sulawesi Tenggara (Sultra) tidak sekadar menghitung waktu yang berlalu, tetapi mengajak untuk merefleksikan posisi kita di alam semesta ini. Rangkaian kegiatan, mulai dari Milad FORHATI, Sekolah Ekofeminisme, hingga Webinar Hari Ibu bertema “Ibu: Sang Penjaga Bumi” menjadi satu kesatuan kesadaran: bahwa perempuan, ibu, dan bumi berada dalam simpul perjuangan yang sama, dirawat atau dilukai tergantung cara manusia memaknai kehidupan.
Milad FORHATI bukan hanya perayaan usia, tetapi momentum meneguhkan kembali jati diri perempuan intelektual yang berpihak pada kehidupan. Di sana, FORHATI menegaskan bahwa keberpihakan pada perempuan tidak pernah terpisah dari keberpihakan pada keadilan sosial, pendidikan, dan keberlanjutan lingkungan.
Kesadaran itu kemudian menapak pada Sekolah Ekofeminisme, ruang belajar yang tidak sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi menumbuhkan keberanian berpikir kritis. Ekofeminisme mengajarkan bahwa krisis ekologis dan ketidakadilan terhadap perempuan berakar pada logika yang sama: eksploitasi, dominasi, dan pengabaian relasi. Dari tanah yang dirusak hingga tubuh perempuan yang dikendalikan, semuanya berangkat dari cara pandang yang memutus hubungan manusia dengan empati dan tanggung jawab, di beberapa kesempatan, saya menyebutnya kolaborasi antara androsentrisme dan kapitalisme.
Dahulu, para ibu berjuang di kongres demi kongres demi kesetaraan di bidang-bidang kehidupan yang vital bagi eksistensi kemanusiaan, sebuah momentum sejarah yang menegaskan peran perempuan bukan hanya dalam ranah domestik, tetapi juga dalam perjuangan sosial, pendidikan, dan kebangsaan. Hari ini, FORHATI memaknai Hari Ibu sebagai penghormatan atas kesadaran, keberanian, dan tanggung jawab perempuan dalam merawat kehidupan.
Dalam konteks inilah, Webinar Hari Ibu “Ibu: Sang Penjaga Bumi” menjadi ruang refleksi kolektif. Ibu tidak lagi dipahami semata sebagai simbol domestik, melainkan sebagai subjek kesadaran ekologis dan moral. Ibu adalah penjaga nilai, penenun etika, dan pewaris kebijaksanaan lintas generasi. Dari rahim kesadaran ibu, diharapkan lahir generasi yang memahami bahwa merawat bumi adalah bagian tak terpisahkan dari merawat kemanusiaan itu sendiri.
Di penghujung tahun ini, FORHATI belajar bahwa perubahan besar selalu berawal dari kesadaran yang dirawat secara konsisten, dari ruang-ruang kecil, dari dialog, dari pendidikan, dan dari keberanian untuk berpihak. Tahun boleh berganti, tetapi komitmen untuk menjaga kehidupan tidak boleh surut.
Dengan refleksi ini, FORHATI melangkah ke tahun berikutnya dengan satu keyakinan: selama perempuan dan ibu terus diberi ruang, didengar, dan dikuatkan, maka harapan bagi bumi dan masa depan akan tetap menyala.(***)


