Print this page
Selasa, 30 Desember 2025 16:16

Kurikulum ala Rumah untuk Pendidikan Berbasis Fitrah (Part 1) Featured

Written by
Rate this item
(2 votes)

Penulis: Rahmaniar Azi,S.Sos.,M.Pd (Praktisi Pendidikan)

Anak adalah amanah dan anugerah dari Tuhan yang paling berharga. Kalimat tersebut tentunya sering kali didengar oleh orang tua manapun. Mendidik anak tidak ada sekolahnya, tidak memiliki jenjang pendidikan. Namun, menjadi orang tua dituntut berperan aktif dalam mendidik dan mengasuh anak menjadi anak yang baik. 

Tugas orang tua yang selalu diucapkan kedengarannya mudah, yaitu menumbuhkan fisik dan mental anak. Perlu disadari, peran menumbuhkan fisik barangkali cukup mudah, dengan memberikan makanan dengan gizi seimbang, mengajarkan pentingnya kesehatan dan kebersihan, mengajarkan kebiasaan berolahraga, dan lain sebagainya. Namun, tugas menumbuhkan mental sungguh sangat kompleks dan harus melibatkan peran ayah dan ibu. Tidak bisa ayah saja dan tidak bisa hanya ibu saja.

Pendidikan yang diterapkan dewasa ini selalu berorientasi pada pendidikan sekolah, juga capaian prestasi akademik, yang mana tujuannya agar anak mendapatkan nilai yang bagus, dijejali dengan berbagai macam pelajaran yang mempunyai standarnya sendiri-sendiri. Jika anak lemah dalam matematika, maka diberi les matematika. Jika anak lemah dalam bahasa Inggris, maka dilatih agar mampu berbahasa Inggris. Prestasi anak dalam hal akademiklah yang menjadi acuan cerdas atau tidaknya seorang anak di mata orang pada umumnya. Sementara itu, prestasi yang lain seperti olahraga, seni, dan bahasa hanya mendapatkan perhatian dengan porsi yang sedikit. 

Kurikulum yang diterapkan dari masa ke masa juga selalu menganaktirikan keahlian non akademik. Mulai dari kurikulum PPSP tahun 1973 hingga Kurikulum 2013 masih menitikberatkan pada keahlian akademik. Secercah harapan lalu muncul dalam Kurikulum Merdeka yang konsepnya disesuaikan dengan kebutuhan siswa, namun nyatanya dalam pengimplementasiannya masih sama dengan kurikulum terdahulu.

Selain itu, perbedaan kelas antara jurusan IPS dan IPA juga sangat terasa, di mana siswa yang mengambil jurusan IPA lebih mendapatkan privilege untuk masuk ke jurusan kuliah, baik rumpun ilmu eksakta maupun humaniora. Berbeda dengan lulusan SMA dari jurusan IPS yang umumnya hanya bisa memilih jurusan dalam seleksi masuk perguruan tinggi negeri yang relevan dengan jurusannya, yaitu rumpun ilmu humaniora. Padahal, kenyataannya tidak sedikit siswa alumni jurusan IPS yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata siswa pada umumnya. 

Keuntungan dari jurusan IPA tidak hanya sebatas kemudahan dalam memilih jurusan pada seleksi masuk PTN saja, namun juga berlaku untuk sekolah tinggi kedinasan. Siswa dari jurusan IPS tidak memenuhi syarat pada beberapa sekolah kedinasan.

Apakah pola pendidikan seperti ini sudah tepat?

Setiap anak unik dan terlahir dengan fitrah.

“Mulailah selalu dari sisi cahaya anak-anak kita, bukan sisi gelapnya. Karena jika cahaya telah melebar menerangi semua sisi, maka kegelapan menjadi tidak relevan. Bukankah kegelapan hanya ada ketika cahaya tiada?” (Harry Santosa, 2016).

Fitrah menurut pengertian sederhananya sering dimaknai sebagai suci atau potensi. Pendapat ilmuwan barat yang mengatakan bahwa anak terlahir bagaikan kertas kosong tidak sepenuhnya benar, karena setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah dan sudah terinstal potensinya masing-masing oleh Allah Swt. Tidak ada satu anak pun yang terlahir tanpa potensi dalam dirinya.

Menurut Harry Santosa, seorang tokoh parenting, dalam bukunya Fitrah Based Education dijelaskan bahwa ada berbagai tahapan dalam pendidikan berbasis fitrah. Tahapan tersebut bermula dari membangkitkan potensi, kemudian gairah beraktivitas yang berangkat dari potensi dan berujung pada karya atau peran. Project Based Learning (PBL) adalah bagian dari aktivitas fitrah belajar dan bernalar. Ujung dari potensi ini adalah peran rahmatan lil alamin, dan puncaknya adalah akhlak atau adab pada alam. Sederhananya, yang dimaksud peran rahmatan lil alamin adalah inovasi sains untuk melahirkan manfaat. Karenanya, dalam Islam, “learning is not for learning”, tetapi “learning for innovation”.

Tidak setiap anak berbakat akademis, tetapi patut diyakini bahwa setiap anak pasti memiliki bakat, potensi, dan peran spesifik dalam peradaban. Jika seorang anak terlihat malas bersekolah dan nilainya selalu merah, maka tidak berarti anak tersebut bodoh. Yang tepat adalah anak tersebut belum dapat menemukan potensi dalam dirinya akibat banyaknya penjejalan materi di sekolah yang tidak ia sukai, juga pola pembelajaran yang menyamaratakan semua anak tanpa melakukan pendekatan terhadap gaya belajar yang berbeda-beda pada setiap anak. Akibatnya, anak akan stres dan semakin jauh dari kesuksesan karena bakatnya selalu terpendam dan sulit ditemukan.

Dalam menghadapi anak yang non akademis, orang tua hanya perlu memfasilitasi anak untuk menemukan jalan suksesnya sesuai dengan potensi mereka masing-masing. Misalnya, seorang anak yang tidak cerdas dalam matematika, bahasa Inggris, dan pelajaran umum lainnya, tetapi menyukai pelajaran olahraga, maka jangan dipaksa untuk unggul dalam bidang yang tidak ia kuasai. Sebaliknya, potensi olahraga tersebut dapat dioptimalkan agar ia dapat meraih prestasi dalam bidang yang disukainya. Sebagai orang tua yang merupakan pendidik utama anak, perlu dipahami bahwa mendidik berbeda dengan mengajar. 

Oleh karena itu, tidak perlu mengubah rumah menjadi sekolah, tetapi jadikanlah rumah sebagai taman peradaban, tempat anak-anak bertumbuh sesuai fitrah dan bakatnya. Jika rumah hanya menjadi tempat untuk tidur setelah lelahnya aktivitas sekolah, lalu sekolah menjadi pusat pendidikan utama bagi anak, maka akan terlahir generasi yang menguasai banyak hal, tetapi kerdil jiwanya. Dengan menghidupkan rumah sebagai pusat pendidikan, diharapkan dapat mengembalikan peran keayahan dan peran keibuan yang sudah menjadi fitrah orang tua, agar anak-anak dapat tumbuh cerdas dengan perannya masing-masing dalam mewarnai dunia yang diiringi dengan akhlak yang baik.(Bersambung)

 

 

Read 113 times Last modified on Selasa, 30 Desember 2025 18:33
Super User

Latest from Super User